Piala Dunia 2026 tidak hanya menghadirkan duel sengit antartim terbaik dunia, tetapi juga sederet keputusan VAR yang memengaruhi hasil pertandingan hingga nasib peserta.

Teknologi video assistant referee (VAR) beberapa kali menjadi penentu, mulai dari membatalkan gol pada menit-menit akhir hingga mengubah keputusan wasit setelah peninjauan ulang.

Sejumlah tim harus menerima kenyataan pahit karena gol dianulir akibat offside dengan margin sangat tipis. Ada pula insiden yang memicu protes karena dianggap tidak konsisten.

Kontroversi itu muncul sejak fase grup hingga babak gugur dan menjadi salah satu cerita yang paling banyak dibicarakan sepanjang Piala Dunia 2026.

Portugal vs Kroasia Menjadi yang Terbaru

Salah satu pertandingan paling dramatis terjadi saat Portugal menghadapi Kroasia pada babak 32 besar di Toronto. Pertandingan berlangsung lebih dari 100 menit akibat serangkaian pemeriksaan VAR, terutama melalui teknologi offside semi-otomatis yang beberapa kali membatalkan gol.

Portugal berhasil menyamakan kedudukan lewat Cristiano Ronaldo. Gol tersebut lahir dari titik penalti setelah VAR meminta wasit meninjau pelanggaran Nikola Vlasic terhadap Renato Veiga saat situasi tendangan sudut.

Memasuki babak berikutnya, drama belum berhenti. Luka Sušić sempat mengira telah membawa Kroasia unggul, tetapi golnya dianulir setelah pemeriksaan VAR menyatakan terjadi offside.

Gol kemenangan Portugal akhirnya tercipta pada menit keempat waktu tambahan. Umpan silang Rafael Leao disambut sundulan keras Gonçalo Ramos yang memastikan Portugal unggul.

Namun, kontroversi terbesar justru hadir pada menit ke-113. Joško Gvardiol sempat mencetak gol penyama kedudukan bagi Kroasia, tetapi VAR kembali membatalkannya karena offside.

Secara keseluruhan, lima gol dianulir sepanjang pertandingan. Keputusan terakhir membuat Kroasia harus tersingkir pada babak gugur pertama setelah sebelumnya mampu mencapai semifinal pada edisi 2018 dan 2022. Portugal pun melaju ke babak 16 besar untuk menghadapi Spanyol.

Iran vs Mesir

Kontroversi lain yang paling menyita perhatian terjadi saat Iran menghadapi Mesir pada laga terakhir grup G.

Pada menit ketiga masa injury time, Shoja Khalilzadeh berhasil menyambar bola di depan gawang dan membawa Iran unggul. Para pemain dan pendukung Iran sempat merayakan gol tersebut karena diyakini menjadi penentu kelolosan ke babak 32 besar.

Namun perayaan itu hanya berlangsung singkat. VAR meminta wasit meninjau ulang proses gol sebelum akhirnya memutuskan Shoja Khalilzadeh berada dalam posisi offside.

Berdasarkan tayangan ulang, media Al Jazeera melaporkan margin offside tersebut hanya sekitar 1 milimeter.

Gol pun dianulir sehingga skor tetap 1-1. Hasil tersebut membuat Iran gagal melaju ke babak gugur Piala Dunia untuk pertama kalinya dan harus mengubur harapan lolos otomatis ke babak 32 besar.

Kolombia Kehilangan Kemenangan

Drama offside dengan selisih tipis juga dialami Kolombia saat menghadapi Portugal di Miami. Davinson Sanchez sempat menyundul umpan Juan Quintero ke gawang pada menit-menit akhir pertandingan dan mengira dirinya menjadi penentu kemenangan.

Namun sebelum selebrasi berlangsung, hakim garis sudah lebih dahulu mengangkat bendera tanda offside.

Pemeriksaan ulang memperlihatkan posisi Sanchez berada sedikit melewati garis pertahanan Portugal. Offside diputuskan hanya karena ujung sepatunya berada di depan bek lawan.

Akibat keputusan tersebut, gol dibatalkan dan Kolombia gagal membawa pulang kemenangan.

Inggris vs Gana

Pertandingan tanpa gol antara Inggris dan Gana juga memunculkan perdebatan terkait penggunaan VAR. Pada menit ke-79, Ezri Konsa dinilai menjatuhkan Prince Kwabena Adu di dalam kotak penalti.

Tayangan ulang memperlihatkan Konsa mengenai lutut Adu sebelum menyentuh bola. Meski demikian, wasit tidak memberikan penalti.

VAR juga tidak merekomendasikan peninjauan ulang sehingga keputusan di lapangan tetap dipertahankan hingga pertandingan berakhir.

Gol Vinicius Junior Dianulir

Brasil memang menang meyakinkan 3-0 atas Skotlandia. Namun kemenangan tersebut tetap dibayangi kontroversi.

Vinicius Junior sempat mencetak gol kedua setelah merebut bola dari Jack Hendry dan melepaskan tembakan ke sudut gawang. VAR kemudian meminta wasit melakukan On-Field Review.

Setelah melihat tayangan ulang di monitor tepi lapangan, wasit membatalkan gol tersebut karena Vinicius dianggap melakukan pelanggaran terhadap Hendry saat merebut bola.

Keputusan itu memicu perdebatan karena kontak antarpemain dinilai sangat minim.

Presiden Federasi Sepak Bola Brasil (CBF), Samir Xaud, bahkan mengirim surat resmi kepada FIFA dan meminta "penerapan standar intervensi VAR yang konsisten dan pertimbangan penunjukan wasit".

Belgia vs Senegal

Laga Belgia melawan Senegal juga menghadirkan salah satu momen paling menentukan sepanjang turnamen. Pada menit ke-118, wasit awalnya membiarkan benturan antara Youri Tielemans dan pemain Senegal di dalam area penalti.

Namun setelah menerima rekomendasi untuk melakukan On-Field Review, wasit mengubah keputusannya.

Penalti akhirnya diberikan kepada Senegal. Keputusan setelah pemeriksaan VAR tersebut menjadi titik balik yang mengubah hasil akhir pertandingan dan memunculkan perdebatan mengenai konsistensi penggunaan teknologi tersebut.

Ekuador Protes, Gol Jerman Tetap Disahkan

Kontroversi lainnya terjadi saat Jerman menghadapi Ekuador pada fase grup. Leroy Sane mencetak gol hanya dua menit setelah pertandingan dimulai.

Namun kubu Ekuador menilai gol tersebut seharusnya tidak disahkan. Mereka memprotes insiden beberapa detik sebelumnya ketika Aleksandar Pavlovic mengangkat kaki terlalu tinggi hingga mengenai kepala Pedro Vite.

Meski demikian, VAR tidak meminta wasit meninjau ulang kejadian tersebut. Gol Leroy Sane tetap disahkan dan menjadi salah satu keputusan yang paling diperdebatkan sepanjang fase grup.

Serangkaian insiden sepanjang Piala Dunia 2026 menunjukkan teknologi VAR masih menjadi sumber perdebatan meski bertujuan meminimalkan kesalahan wasit.